Tempat Terbaik di Dunia
 Pengalaman Seorang Antropolog Tinggal di Kawasan Kumuh Jakarta
 Roanne van Voorst

“Mau ikut?” teriak seorang pemuda ke arah saya, di atas kebisingan deru mesin bus kota yang saya tumpangi. “Ke tempat terbaik di Indonesia. O tidak, ke tempat terbaik di dunia! Apa saja yang ingin kamu lakukan, bisa di sana, dan apa saja yang ingin kamu punya, ada di sana.”

Komentar pembaca di Goodreads.

Lukisan malam

goresan cahaya purnama
menyelundup dari celah-celah dinding
gubuk bambu dekat sungai beriak kecil
dalam kelap-kelip lampu teplok
dua jiwa
berbaring menatap bayang-bayang malam
bersama lantunan suara-suara jangkrik
menyimak khusuk
kisah-kisah mistik masa lalu
dua jiwa
menghilang dalam senyap
tak berkesudahan
melukis malam berbingkai cinta

dan di suatu masa
lukisan itu akan terpajang
dalam ingatan dua jiwa tentang cinta

Lukisan malam

Ada dan tiada

diam-diam
bahagia itu menyelinap pergi
ketika aku sibuk
menghitung
angan-angan esok hari
mengumpulkan
serpihan-serpihan
ingatan hari kemarin
meninggalkanku
termangu
antara ada
dan tiada

(akankah kamu kembali,
jika aku berjanji
menyapamu setiap pagi?)

Ada dan tiada

Tanpa selfie

sayang,
nggak perlu bikin gambar
mari kita duduk saja
kau dan aku berdampingan
dengan dekor pagi perbukitan
menghitung embun satu-satu
merasakan dingin meraba tulang
menikmati kelembutan pagi itu
ditemani suara-suara alam
berdua
mengumpulkan kenangan
bukan dalam gambar

Tanpa selfie

Apa kabar sungaiku?

apa kabar sungaiku?
masihkah riakmu
membelai kaki bocah-bocah kecil
akrab dengan alam
dan menemukan dirimu
sebagai teman dalam diam,
mencoba mencari jawaban
pertanyaan-pertanyaan mengapa?
masihkah jernihmu
memantulkan wajah pengertian
mencoba memahami
kegalauan mereka
bocah-bocah kecil dibesarkan oleh alam?
masihkah gemercik airmu
menentramkan ketakutan mereka?
ataukah
kau begitu tua
kusam
lelah
dan terlupakan
tak lagi berdaya
memangku bocah-bocah kecil
yang terdampar
dalam kemurungan dunia?

Apa kabar sungaiku?

Cinta sekilas

malam ini aku menunggunya
cinta yang dulu mampir
tanpa banyak tanya
atau berjanji setia
datang sore-sore
bersama hujan
merangkum penatnya hari
mendekap sepi
mencium syahdu
lalu pergi mengikut angin
meninggalkanku
dengan sisa-sisa kehangatan
dua cangkir kosong
dan setumpuk rindu

Cinta sekilas

Tentang duka

duka adalah sahabatku
yang datang bersama senja
mengumandangkan gulita
berselimut cinta dalam rona jingga

mengajakku mengembara
ke puncak-puncak kesunyian
memandangi keindahan
yang tak terlihat
dalam hiruk-pikuk kehidupan

membawaku menjelajahi
jalan-jalan panjang berliku
mencari pengertian
yang tak termuat
dalam sempitnya ruang di kepalaku

Tentang duka

Selamat pagi

tidak
aku tidak ingin mengganggu harimu
dengan analisa panjang
berita terbaru
dari medan perang
foto-foto reportase
atau deretan angka-angka
tentang berapa mati berapa luka
berapa hidup

tidak
aku tidak ingin mengganggumu
dengan ilusi-ilusi kebahagiaan

aku cuma ingin bilang
‘selamat pagi
aku mengingatmu saat ini’

Selamat pagi

Jati diri

aku bertanya-tanya
apakah kau mengenalku
atau itu hanya bias
dari harapan-harapanmu
tentangku
mungkin ada baiknya
kita menyelaraskan
harapanmu
dengan kebenaran tentangku
menghapus jarak
antara yang terlihat
dan yang tersembunyi

Jati diri

Ying Yang

di bangku kayu taman itu
kita duduk bersama
menikmati sisa-sisa matahari musim panas
merasakan angin dingin musim gugur
sambil memandangi daun-daun jatuh
merah, coklat dan kuning berserakan di tanah
di bangku kayu taman itu
kita akhirnya mengerti
bahwa kepergian dan kedatangan
perjumpaan dan perpisahan
kesedihan dan kegembiraan
adalah seperti musim
selalu datang
setia pada waktunya

Ying Yang

Ode buat Klinop

pagi ini
aku mengingat cintamu
lewat sepiring nasi goreng
kubuat ala kamu
harap maklum tanpa kubis
udara di sini terlalu dingin
buat tukang sayur keliling
meski begitu
aku masih merasakan cintamu
yang kau sajikan pagi itu
dan pagi-pagi berikutnya
suatu ketika
di mana cinta itu ada
tanpa banyak kata

Ode buat Klinop